Saat rinduku mulai terbit, saat anganku terbang ke nirwana, kunantikan kepakan merpati tuk datang menghampiri dan memberikan serangkaian melati yang kini mulai mewangi. Wahai kekasihku jadilah penawar bagi hatiku yang mati membeku karena menahan rindu, kulukiskan bayangmu diatas batu pemujaan yang telah diharamkan Tuhanku, namun kutahu Ia Maha pencinta Keindahan, bagiku sedikit cahaya lebih baik daripada hidup tanpa arti, aku memang bukan pemuja cinta, tapi aku takkan bisa hidup tanpa cinta, hanya orang-orang munafik yang hidup tanpa cinta, karena cinta itu adalah fitrah bagi setiap manusia. Cinta yang kumiliki bukanlah cinta yang hanya kusandarkan pada nafsu semata, namun cinta yang kuletakkan diatas sebuah ukiran batu yang kuberi nama ketulusan dan keikhlasan. Dan ketika cinta itu datang, akankah ia pergi? Dinginnya rasa yang kau ciptakan telah membekukan lautan asaku, namun kucoba untuk terus bangkit dan berlari mengejarnya kembali, tapi akankah ia dapat kuraih?
Kini hiasan kasih telah terukir indah dijendela hatiku, kurayu sang dara dengan bermandikan asmara sebagai penawar rinduku yang tak bisa melupakanmu dan kuserahkan semua kesucian cintaku padamu. Telah kusemai benih cintaku kedalam satu hati yang kupilih, dan kututup rapat-rapat tirai asmara bersama tumbuhnya tunas cintaku untuk sebuah nama yang telah kuukir dalam istana cintaku.
Rindu itu adalah anugerah, saat rinduku menghampiri, hanya kosong yang kurasakan, tak bisa kulukiskan keindahan rindu itu, meski rindu bertangkaikan duri yang telah berulang kali menghujam ulu hatiku. Namun engkau tetap yang terindah, laksana setitis air yang selalu kurindukan tuk basahi rasaku.